Perkumpulan Pemuda yang Inklusif – Wawancara dengan Dondik Robini

Profil Dondik Robini

Kami berbicara dengan Dondik, designer dan juga pendiri Mawea. Mawea adalah suatu wadah ekosistem kreatif di Lumajang, Jawa Timur.

Dondik juga aktif sebagai koordinator Kelas Inspirasi (KI) Lumajang sejak tahun 2015, yaitu suatu gerakan yang mengajak para profesional untuk mengajar sehari di SD-SD marginal untuk membuka wawasan anak-anak terkait beragam pilihan profesi.

Lewat kegiatan itulah untuk pertama kalinya ia berinteraksi langsung dengan isu disabilitas. Ia merancang kegiatan yang mengemukakan teman-teman disabilitas sebagai inspirator bagi anak-anak sekolah SD. 

Kolaborasi Dondik dengan rekan-rekan disabilitas berkembang kepada kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Seperti buka bersama, bakti sosial, sampai kegiatan aktualisasi seni yang secara khusus menampilkan karya-karya dari teman-teman disabilitas.

Kini, makin banyak ia temui teman- teman disabilitas Lumajang yang tampil di panggung-panggung pertunjukan seni kabupaten Lumajang. Tidak hanya itu, bahkan, rekan-rekan disabilitas ini menghimpun diri untuk memberdayakan sekitarnya.

Berikut adalah beberapa foto kegiatan Dondik dengan penyandang disabilitas di Lumajang:

Dalam kesempatan wawancara kali ini, kami bertanya kepada Dondik tentang pengalaman dan motivasinya bekerja sama dengan penyandang disabilitas.

Bagaimana pengalaman kolaborasi selama ini, baik dengan teman disabilitas maupun non disabilitas?

“Sebelum mengikuti Gerakan Kreabilitas, saya di Lumajang sering mengadakan kegiatan sosial bersama dengan berbagai komunitas kepemudaan, termasuk rekan-rekan disabilitas, seperti kegiatan buka bersama, cinta lingkungan, dan seni budaya. Awalnya enggak kebayang (berkolaborasi dengan penyandang disabilitas) dan kikuk gitu, takut salah ngomong saat bersenda-gurau. Tapi setelah berinteraksi dan berkegiatan bareng, ternyata rekan-rekan disabilitas di Lumajang seru juga, nggak baperan.”

“Yang harus diperhatikan saat kerja dengan disabilitas itu: transportasi dan lokasi. Sekarang, di Lumajang sudah mulai aware dengan disabilitas. Kantor-kantor pemerintah sudah ramah disabilitas daksa. Teman-teman disabilitas juga banyak yang mulai proaktif menyuarakan hak-haknya dalam bermasyarakat.”   

Biasanya tantangan apa yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasinya?

“Tantangannya psikologis (konsep diri). Sebenarnya yang dilakukan teman-teman disabilitas ini sudah sangat baik, hanya mereka masih merasa bahwa kerja-kerja sosial dan advokasi hak-haknya selama ini itu bukan apa-apa. Mungkin karena sudah cukup lama kurang mendapatkan apresiasi pemerintah sebelum-sebelumnya. Sehingga, ketika mau berkolaborasi, perlu komunikasi dan upaya yang tidak biasa. Kita harus memiliki kepekaan dan kejelian menangkap maksud yang tersirat dan tersurat saat berinteraksi.”

“Kalau dengan Pak Is, kolaborator di Iskandar Collective, bu Yeni –istrinya- bisa membantu komunikasi, karena terkadang ada pembicaraan yang butuh penerjemahan ulang. Prosesnya juga tidak bisa yang “menekan”, misal harus jadi 10 sketsa dalam 1 hari. Jadi, lebih baik membebaskan dalam berproses. Cara ini malah terkadang bisa melampaui dari apa yang ditargetkan.”

Menurut Mas, kenapa perlu kolaborasi dengan penyandang disabilitas?

“Sebenarnya awalnya enggak kepikiran berkarya seni dengan melibatkan penyandang disabilitas. Tapi kegiatan Gerakan Kreabilitas memberikan perspektif baru, bahwa, harusnya kondisi fisik yang terbatas itu bukanlah halangan, malah, bisa jadi itu adalah peluang dari penemuan bentuk karya seni baru, yang dimana ukurannya itu… maha luas. Maka, kenapa kita harus memilih sumber yang terbatas, dengan memunggungi rekan disabilitas dalam berkarya seni?”

Dondik, Wulang Sunu, dan tim Ketemu Project sedang ngobrol dengan Pak Iskandar tentang konsep produk Iskandar Collective

Terima kasih Mas Dondik atas interviewnya dengan kami, semoga kita ketemu lagi.

Kalau teman-teman ingin tahu lebih lanjut tentang proyek-proyek kolaborasinya bersama teman-teman di Lumajang, sila bisa dicek di Instagram

Tentang Iskandar Collective

Kini selain mengerjakan proyeknya di Mawea Lumajang, Dondik juga sedang berkolaborasi dengan seniman dan illustrator asal Yogyakarta, Wulang Sunu, dalam mengembangkan produk fashion dengan nama brand Iskandar Collective. 

Dalam Iskandar Collective, Dondik dan Wulang bekerja sama dengan seorang seniman asal Lumajang bernama Pak Iskandar.

Iskandar Collective adalah hasil pertemuan mereka saat berpartisipasi dalam proyek kami, Gerakan Kreabilitas, sebuah program dari British Council: Developing Inclusive Creative Economy.

Apakah kamu ingin coba berkolaborasi dan membuat program seni dengan penyandang disabilitas? Kamu bisa temukan cara-cara nya dalam Toolkit Inklusivitas: Kolaborasi Seni dan Kreatif. Keseluruhan toolkit dapat diunduh dalam bentuk PDF.