Ketemu Project | Megae Yuk! Body & Mind
18809
post-template-default,single,single-post,postid-18809,single-format-standard,qode-quick-links-1.0,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,hide_top_bar_on_mobile_header,qode-theme-ver-11.0,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.2,vc_responsive

Megae Yuk! Body & Mind

Akhir pekan ini menjadi sesuatu yang berbeda bagi Ketemu Project dan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI Simpul Bali). Pada perhelatan event Denpasar Yoga Festival 29 Juli 2017 di Istana Taman Jepun, keduanya berkolaborasi dalam sebuah workshop seni yang di fasilitasi oleh seniman Ketemu Project, Budi Agung Kuswara (Kabul).

Kebanyakan dari peserta memutuskan mengikuti workshop ini karena merasa penasaran tentang bagaimana interaksi komunikasi dengan ODS. Sesaat ketika workshop dimulai, Kabul memperkenalkan diri dan membagi kelompok peserta berpasangan. Suasana terasa santai dan sesekali terlihat ekspresi canggung diantara peserta, namun pada momen tertentu mereka saling tersenyum dan terlihat semakin menikmati obrolan.

Pada tahap akhir workshop ini, Kabul mempersilahkan masing-masing pasangan peserta untuk menuliskan poin singkat dan hal paling berkesan selama obrolan berlangsung disebuah daun. Bersama pasangan workshopnya, para peserta kemudian menggantungkan daun tersebut disebuah pohon. Menjadikannya tidak sekedar sebuah instalasi seni komunitas, namun juga bentuk manifestasi anti-stigma terhadap Skizofrenia.

Di akhir workshop, saya bertanya kepada nama dari asal, salah seorang peserta pengunjung yang sejak awal terlihat antusias mengikuti workshop ini. Bagaimana kesan Anda berinteraksi dengan kawan ODS selama workshop berlangsung?

 

“Awalnya saya merasa apakah interaksi ini akan berbeda dengan interaksi saya kepada orang lain pada umumnya, namun ternyata tidak. Saya berkenalan dan menikmati obrolan dengan Sindu (ODS pasangannya, red) sama seperti saya berinteraksi dengan orang lain pada umumnya. Saya rasa tidak ada bedanya”.

Kabul memberikan penjelasan dan opininya tentang metode workshop sebagai sebuah bentuk intervensi seni. Ia tidak mengarahkan peserta pada interaksi tertentu yang mengarah pada satu kesimpulan dari cara pandang dan penilaiannya selaku seniman. Baik selama proses berlangsung maupun bentuk akhir dari karya yang dibuat bersama oleh para peserta. Membiarkan ODS berinteraksi secara bebas dengan publik adalah perwujudan dari intervensi itu sendiri.

– Pungkas, Workshop Observer


 

It was a special weekend for our friends from the community Care for Schizophrenia Indonesia – Bali and Ketemu Project.  At the event event Denpasar Yoga Festival held at the Taman Jepun, community members collaborated in an art workshop facilitated by artist, Kabul of Ketemu Project .

Opened for public participation, most of the participant were curious about interacting with people living with schizophrenia. During the workshop, Kabul paired a member of the public with a community member. He encouraged the participants to get acquainted and to start a discussion with each ohter The atmosphere was relaxed, though there was the occasional awkwardness. But when there were moments when the participants smiled at each other, the exchange became more enjoyable.


In the final stages of this workshop, Kabul invites each pair of participants to
draw or write most memorable though during the exchange on a leaf. Participants then hung the leaf back onto the tree tree. The tree was not just a community art installation, but also a action that advocates anti-stigma towards schizophrenia.


At the end of the workshop, I asked one of the participants of his impression of the interaction – 

“At first I questioned whether this interaction will be different from my interactions with people in general, but it was not. I got to meet and enjoy a conversation with with Sindu my partner who lives with schizophrenia. I do not think it makes any difference “.

Kabul explained that the workshop method was a form artistic intervention. It does not direct participants to a particular conclusion established by the artist-facilitator’s perception. The process and the final form of artwork was shaped by the participants. Facilitating an opportunity for people living with schizophrenia to interact with members of the public can be an intervention itself.

– Pungkas, Workshop Observer